I’tikaf

Ξ October 17th, 2006 | → 2 Comments | ∇ Al-Islam |

muhammad.jpgPada masa sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid). Hal ini terus dilakukan Rasulullah sampai beliau wafat. Sudah semestinya kaum Muslimin melaksanakan sunnah yang diajarkan sosok teladan. Agar i’tikaf bisa memberikan hasil sesuai yang diharapkan dan agar orang yang beri’tikaf keluar dari masjid dalam kondisi telah diampuni dosa-dosanya, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, yaitu:

Niat yang Baik
Hendaklah orang yang ingin beri’tikaf memurnikan niatnya untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meraih derajat di akhirat dengan cara melepaskan diri dari kegiatan dunia dan mengisinya dengan amaliyah akhirat, serta menghidupkan sunnah Rasulullah.

Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan
Inilah sunnah Rasulullah, yang berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanya Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf setelahnya.”
Boleh saja beri’tikaf selain waktu-waktu itu, akan tetapi tetap saja yang terbaik adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Di Masjid Jami’ (Agung)
Tidak sah bila seseorang beri’tikaf di rumah, Rasulullah mencontohkan i’tikaf di masjid. Allah berfirman, Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah [2]: 187).
Ayat ini menunjukkan bahwa tempat i’tikaf adalah masjid. Seyogyanya orang yang beri’tikaf memilih masjid jami’ (yang menyelenggarakan shalat Jum’at) sehingga ia tidak perlu pindah dari masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, berdasarkan kepada perkataan Aisyah, “Yang disunnahkan kepada orang yang sedang beri’tikaf ialah ia tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencampurinya, tidak keluar masjid untuk satu urusan pun kecuali urusan yang tidak mungkin ia tinggalkan, tidak ada i’tikaf kecuali disertai dengan puasa dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid
jami’.”

Di Mihrab atau Tenda Khusus
Cara ini akan membantu orang yang beri’tikaf untuk menyendiri bersama Tuhannya dan tidak menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap dengan temannya. Rasulullah juga melakukan cara ini, sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, “Bahwasanya Rasulullah jika hendak beri’tikaf beliau menunaikan shalat Shubuh lalu memasuki tempat i’tikafnya, dan suatu ketika beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu beliau memerintahkan untuk dirikan tenda untuknya “

Memasuki Tenda Setelah Shalat Shubuh
Yaitu pada hari pertama dari sepertiga terakhir bulan Ramadhan, karena itulah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits di atas. Ibnu Hajar berkata, ” dalam hal itu menunjukkan bahwa permulaan seseorang yang beri’tikaf memasuki tempat i’tikafnya ialah setelah shalat Shubuh.”

Tidak Keluar Masjid
Hendaklah tidak keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting dan tidak mungkin ditinggalkan. Ia tidak disunnahkan menjenguk orang sakit, atau melayat jenazah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits terdahulu, kecuali jika ia mensyaratkan hal-hal tersebut ketika ia memulai beri’tikaf.

Tidak Menyentuh Wanita
Berdasarkan hadits terdahulu, dan berdasarkan firman Allah, Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah [2]: 187).

Sungguh-sungguh
Tujuan utama dari i’tikaf adalah agar seseorang bisa berkonsentrasi untuk ibadah saja sambil menantikan datangnya lailatul qadr seperti yang disebutkan Allah, Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadr [97]: 3). Diriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah jika telah memasuki sepuluh terakhir beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Maksud mengencangkan kain di sini ialah bersungguh-sungguh dalam beribadah atau tidak mencampuri istrinya.

Tidak Menyia-nyiakan Waktu
Hendaklah seseorang yang beri’tikaf memanfaatkan setiap kesempatan yang ia miliki untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur`an, istighfar, dzikir kepada Allah Swt, shalat, berpikir, dan merenung. Janganlah menyia-yiakan waktu dengan berbincang-bincang dengan teman dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah.*

(Ensiklopedi Etika Islam/Hidayatullah)

 

2 Responses to ' I’tikaf '

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' I’tikaf '.

  1. Yusmono said,

    on March 15th, 2007 at 3:58 am

    Website ini sangat bagus, dan saya pun ingin mendapat informasi2 terbaru dari situs ini, serta ditunggu kabar beritanya di emailku : Yusmono@depkop.go.id.

    salam. thanks.

  2. Mudji said,

    on March 17th, 2007 at 7:45 am

    Sdr. Yusmono,

    Terima kasih atas responnya.
    Info2 terbaru tentang jaringan akan segera menyusul.
    Semoga anda tidak bosan mengunjungi situs ini.
    Thanks

Leave a reply