{"id":259,"date":"2011-02-26T21:43:18","date_gmt":"2011-02-26T18:43:18","guid":{"rendered":"http:\/\/mudji.net\/press\/?p=259"},"modified":"2020-06-16T21:17:12","modified_gmt":"2020-06-16T17:17:12","slug":"nikmatnya-surga-dahsyatnya-neraka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mudji.net\/press\/?p=259","title":{"rendered":"Nikmatnya Surga, Dahsyatnya Neraka"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu diantara pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah adalah mengimani keberadaan Surga (Al Jannah) dan Neraka (An Naar). Salah satunya berdasarkan firman Allah Ta\u2019ala (yang artinya), \u201cPeliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya..\u201d (QS. Al-Baqarah : 24-25).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengimani surga dan neraka berarti membenarkan dengan pasti akan keberadaan keduanya, dan meyakini bahwa keduanya merupakan makhluk yang dikekalkan oleh Allah, tidak akan punah dan tidak akan binasa, dimasukkan kedalam surga segala bentuk kenikmatan dan ke dalam neraka segala bentuk siksa. Juga mengimani bahwa surga dan neraka telah tercipta dan keduanya saat ini telah disiapkan oleh Allah Ta\u2019ala. Sebagaimana firman Allah Ta\u2019ala mengenai surga (yang artinya), \u201c..yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa\u201d (QS. Ali Imran : 133), dan mengenai neraka (yang artinya), \u201c..yang telah disediakan untuk orang-orang yang kafir.\u201d (QS. Ali Imran : 131).[1] Oleh karena itulah, Al Imam Abu Ja\u2019far Ath Thahawi (wafat 321 H) menyimpulkan dalam Al \u2018Aqidah Ath Thahawiyah, \u201cSurga dan neraka adalah dua makhluq yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluq lain\u201d[2].<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Surga dan Kenikmatannya<br \/>\n<\/strong>Allah Ta\u2019ala telah menggambarkan kenikmatan surga melalui berbagai macam cara. Terkadang, Allah mengacaukan akal sehat manusia melalui firman-Nya dalam hadits qudsi, \u201cKusiapkan bagi hamba-hambaKu yang sholih (di dalam surga, -pen), yaitu apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati semua manusia\u201d, kemudian Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: \u201cBacalah jika kalian mau, \u2018Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang\u2019 (QS. As-Sajdah : 17)\u201d[3]. Di tempat lain, Allah membandingkan kenikmatan surga dengan dunia untuk menjatuhkan dan merendahkannya. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, \u201cTempat cemeti di dalam surga lebih baik dari dunia dan seisinya\u201d.[4] Kenikmatan surga juga Allah Ta\u2019ala gambarkan dengan menyebut manusia yang berhasil memasuki surga dan selamat dari adzab neraka, sebagai orang yang beroleh kemenangan yang besar. Sebagaimana Allah Ta\u2019ala firmankan (yang artinya), \u201cBarangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar\u201d (QS. An-Nisaa\u2019 : 13)[5] Berikut ini akan kami pilihkan beberapa sifat dan kenikmatan yang ada di dalam surga secara ringkas. Semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menggapai surgaNya.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penamaan Surga<br \/>\n<\/strong>Surga (Al Jannah) secara bahasa berarti : kebun (Al bustan), atau kebun yang di dalamnya terdapat pepohonan. Bangsa Arab juga biasa memakai kata al jannah untuk menyebut pohon kurma. Secara istilah, surga ialah nama yang umum mencakup suatu tempat (yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi mereka yang menaati-Nya), di dalamnya terdapat segala macam kenikmatan, kelezatan, kesenangan, kebahagiaan, dan kesejukan pandangan mata. Surga juga disebut dengan berbagai macam nama selain Al Jannah, diantaranya : Darus Salam (Negeri Keselamatan; lihat QS. Yunus : 25), Darul Khuld (Negeri yang Kekal; lihat QS. Qaaf : 34), JannatunNa\u2019im (Surga yang Penuh Kenikmatan; QS. Luqman: 8), Al Firdaus (QS. Al Kahfi : 108), dan berbagai penamaan lainnya.[6]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pintu-Pintu Surga<br \/>\n<\/strong>Surga memiliki pintu-pintu. Dalam sebuah hadits dari shahabat Sahl bin Sa\u2019ad radhiyallaahu anhu dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, \u201cDi dalam surga terdapat delapan pintu, diantaranya adalah Ar Rayyan. Tidak ada yang memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa\u201d[7]. Dari Utbah bin Ghazawan radhiyallaahu anhu, beliau berkata mengenai lebar tiap pintu surga, \u201cRasulullah bersabda kepada kami bahwasanya jarak antara daun pintu ke daun pintu surga lainnya sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika orang yang memasukinya harus berdesakan\u201d.[8]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tingkatan Surga<br \/>\n<\/strong>Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, \u201cSesungguhnya surga terdiri atas seratus tingkat, jarak antara dua tingkatnya seperti jarak antara langit dan bumi, Allah menyediakannya untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya\u201d[9]. Tingkatan surga yang paling tinggi ialah Firdaus. Nabi memerintahkan ummatnya untuk berdoa memohon Firdaus melalui sabdanya, \u201cJika kalian meminta pada Allah mintalah kepadaNya Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling utama, dan merupakan tingkatan tertinggi dari surga, diatasnya terdapat \u2018Arsy Ar Rahman dan dari Firdaus itulah memancar sungai-sungai surga\u201d.[10]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bangunan-Bangunan dalam Surga<br \/>\n<\/strong>\u201cTetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi\u201d (QS. Az-Zumar : 20). Dari Abu Musa Al Asy\u2019ari dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda, \u201cSesungguhnya bagi orang-orang mukmin di dalam surga disediakan kemah yang terbuat dari mutiara yang besar dan berlubang, panjangnya 60 mil, di dalamnya tinggal keluarganya, di sekelilingnya tinggal pula orang mukmin lainnya namun mereka tidak saling melihat satu sama lain.\u201d[11]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Makanan Penghuni Surga<br \/>\n<\/strong>\u201cDan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.\u201d (QS. Al Waqi\u2019ah : 20-21). Adapun buah-buahan surga adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta\u2019ala (yang artinya), \u201cSetiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: \u2018Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.\u2019 Mereka diberi buah-buahan yang serupa\u201d (QS. Al Baqarah : 25). Syaikh As Sa\u2019diy rahimahullah menjelaskan keserupaan dalam ayat diatas dengan, \u201cAda yang berpendapat serupa dalam hal jenis, namun berbeda dalam penamaan, ada pula yang berpendapat saling menyerupai satu sama lain, dalam kebaikannya, kelezatannya, kesenangannya, dan semua pendapat tersebut benar.\u201d[12]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Minuman Penghuni Surga<br \/>\n<\/strong>\u201cSesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari piala (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya\u201d (QS. Al Insan : 5-6). Ibnu Asyur menjelaskan mengenai kafur \u201cYaitu minyak yang keluar dari tanaman mirip oleander yang tumbuh di negeri Cina, ketika usianya telah mencapai satu tahun mengalir dari dahannya minyak yang disebut kafur.\u201d[13]. Oleh karena itu, \u201cka\u2019san\u201d dalam ayat ini maksudnya ialah piala yang biasa menjadi wadah khamr, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jalalain. Kata \u201cka\u2019san\u201d ini juga dipakai dalam ayat, \u201cDi dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe\u201d (QS. Al Insan : 17) dan maksudnya ialah minuman arak yang telah bercampur jahe, karena bangsa Arab dahulu biasa mencampur arak dengan jahe.<br \/>\n&#8220;(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka&#8230; (QS. Muhammad:15)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">========================================<br \/>\n<strong>Dahsyatnya Neraka<br \/>\n<\/strong>Neraka disiapkan Allah bagi orang-orang yang mengkufuri-Nya, membantah syariat-Nya, dan mendustakan Rasul-Nya. Bagi mereka adzab yang pedih, dan penjara bagi orang-orang yang gemar berbuat kerusakan. Itulah kehinaan dan kerugian yang paling besar. Allah subhanahu wa ta\u2019ala berfirman, \u201cYa Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.\u201d (QS. Ali Imran : 192). Demikian pula firman Allah Ta\u2019ala, \u201cKatakanlah: \u201cSesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.\u201d Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.\u201d (QS. Az Zumar : 15). Itulah seburuk-buruk tempat kembali. \u201cSesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.\u201d (QS. Furqan : 66)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penamaan Neraka<br \/>\n<\/strong>An Naar, neraka secara bahasa ialah kobaran api (Al lahab) yang panas dan bersifat membakar. Secara istilah bermakna, suatu tempat yang telah disiapkan Allah subhanahu wa ta\u2019ala bagi orang-orang yang mendurhakai-Nya. Allah Ta\u2019ala berfirman (yang artinya), \u201cSesungguhnya Allah mela\u2019nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)\u201d (QS. Al Ahzab : 64). Neraka memiliki beragam nama selain an naar, diantaranya Jahannam (lihat QS. An Naba\u2019 : 21-22), Al Jahim (QS. An Naziat : 36), As Sa\u2019ir (QS. Asy Syura : 7), Saqar (QS. Al Mudatsir : 27-28), Al Huthomah (QS. Al Humazah : 4), dan Al Hawiyah (QS. Al Qari\u2019ah : 8-11)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pintu-Pintu Neraka<br \/>\n<\/strong>\u201cJahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.\u201d (QS. Al Hijr : 44). Pintu yang dimaksud ialah bertingkat ke bawah, hingga ke bawahnya lagi, disediakan sesuai dengan amal keburukan yang telah dikerjakan, sebagaimana ditafsirkan oleh Syaikh As Sa\u2019diy.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kedalaman Neraka<br \/>\n<\/strong>Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, \u201cKami bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Maka Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bertanya, \u2018Tahukah kalian apakah itu?\u2019 Kami pun menjawab, \u2018Allah dan RasulNya lebih mengetahui\u2019. Rasulullah berkata, \u2018Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun lalu. Batu itu jatuh ke dalam neraka, hingga baru mencapai dasarnya tadi\u2019. [14]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bahan Bakar Neraka<br \/>\n<\/strong>\u201cPeliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir\u201d (QS. Al Baqarah : 24). Batu yang dimaksud dalam ayat ini ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan sebagian besar pakar tafsir dengan belerang, dikarenakan sifatnya yang mudah menyala lagi busuk baunya. Sebagian pakar tafsir juga berpendapat bahwa yang dimaksud batu di sini, ialah berhala-berhala yang disembah, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), \u201cSesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.\u201d (QS. Al Anbiya : 98)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Panas Api Neraka<br \/>\n<\/strong>Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu beliau berkata, \u201cRasulullah shallallaahu alaihiwa salam bersabda, \u2018Api kalian, yang dinyalakan oleh anak Adam, hanyalah satu dari 70 bagian nyala api Jahannam. Para shahabat kemudian mengatakan, \u2018Demi Allah! Jika sepanas ini saja niscaya sudah cukup wahai Rasulullah! Rasulullah menjawab, \u2018Sesungguhnya masih ada 69 bagian lagi, masing-masingnya semisal dengan nyala api ini\u2019\u201d.<br \/>\n&#8220;Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan.\u201d (HR. Bukhari-Muslim)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Makanan Penghuni Neraka<br \/>\n<\/strong>\u201cMereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar\u201d (QS. Al Ghasiyah : 6-7). Ibnu Katsir rahimahullah membawakan perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, \u201cItu adalah pohon dari neraka\u201d. Said bin Jubair berkata, \u201cItu adalah Az Zaqum (pepohonan berduri bagi makanan penghuni neraka)\u201d. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah batu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Minuman Penghuni Neraka<br \/>\n<\/strong>\u201cDi hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya\u201d (QS. Ibrahim : 16-17). Yaitu mereka diberi air yang amatlah busuk baunya lagi kental, maka merekapun merasa jijik dan tidak mampu menelannya. \u201cDiberi minuman dengan hamiim (air yang mendidih) sehingga memotong ususnya\u201d (QS. Muhammad : 15). Hamiim ialah air yang mendidih oleh panasnya api Jahannam, yang mampu melelehkan isi perut dan menceraiberaikan kulit mereka yang meminumnya. Sebagaimana Allah Ta\u2019ala berfirman (yang artinya), \u201cDengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)\u201d (QS. Al Hajj : 20).[15]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengingat Nikmat Surga dan Adzab Neraka Sumber Rasa Khusyu\u2019 dalam Hati<br \/>\n<\/strong>Yahya bin Mu\u2019adz berkata, \u201cRasa takut di dalam hati bisa tumbuh dari tiga hal. Yaitu senantiasa berpikir seraya mengambil pelajaran, merindukan Surga seraya memendam rasa cinta, dan mengingat Neraka seraya menambah ketakutan.\u201d Hendaklah diri kita tidak pernah merasa aman dari adzab neraka. Sulaiman At Taimi pernah berkata, \u201cAku tidak tahu apa yang tampak jelas bagiku dari Rabbku. Aku mendengar Allah \u2018azza wa jalla berfirman, \u201cDan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan\u201d. (QS. Az Zumar : 47).[16] Semoga tulisan ini dapat menambah rasa takut dan harap kita kepada Allah subhanahu wa ta\u2019ala, memotivasi kita untuk meningkatkan amal shalih, dan menjauhi larangan-laranganNya. [Yhouga Ariesta M.]<br \/>\n_____________<br \/>\n[1] A\u2019lamus Sunnah Al Mansyurah (hal. 134-135). Syaikh Hafidz bin Ahmad Al Hakami rahimahullah. Tahqiq : Dr. Ahmad bin Ali \u2018Alusyi Madkhali. Cetakan Maktabah Ar Rusyd.<br \/>\n[2] Bagaimana Cara Beragama yang Benar? Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais. Terjemah : Muhammad Abduh Tuasikal, ST. Pustaka Muslim.<br \/>\n[3] HR. Bukhari [3244] dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu<br \/>\n[4] HR. Bukhari [3250]<br \/>\n[5] Al-Yaumul Akhir : Al Jannatu wa An-Naar (hal. 117-118). Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar. Cetakan Daar An-Nafais.<br \/>\n[6] Al Jannatu wa An Naar, Abdurrahman bin Sa\u2019id bin Ali bin Wahf Al Qahthani rahimahullahu ta\u2019ala, dengan tahqiq : Dr. Sa\u2019id bin Ali bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah<br \/>\n[7] HR. Bukhari [6\/328] dan Muslim [8\/32]<br \/>\n[8] HR. Muslim [2967]<br \/>\n[9] HR. Bukhari [6\/11] dan Muslim [13\/28]<br \/>\n[10]Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah [581]<br \/>\n[11] HR. Bukhari [6\/318], Muslim [17\/175], dan Tirmidzi [6\/10]<br \/>\n[12]Taisir Karim Ar Rahman fii Kalam Al Mannan, Syaikh As Sa\u2019di, Muassassah Ar Risalah. Asy Syamilah.<br \/>\n[13]At Tahrir wa At Tanwir, Ibnu Asyur, Mawqi\u2019 At Tafasir. Asy Syamilah.<br \/>\n[14] HR. Muslim 2844<br \/>\n[15] Disarikan dari Tadzkiyah Al Abrar bi Al Jannati wa An Naar. Dr. Ahmad Farid. Maktabah Al Mishkat Al Islamiyah.<br \/>\n[16]\u201c1000 Hikmah Ulama Salaf\u201d. Shalih bin Abdul Aziz Al Muhaimid, diterjemahkan oleh Najib Junaidi, Lc. Pustaka Elba hal. 316-317<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu diantara pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah adalah mengimani keberadaan Surga (Al Jannah) dan Neraka (An Naar). Salah satunya berdasarkan firman Allah Ta\u2019ala (yang artinya), \u201cPeliharalah dirimu dari &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259"}],"collection":[{"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=259"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":387,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259\/revisions\/387"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mudji.net\/press\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}